Oleh: Shafa Karimah
Pada ruangan ber ac dengan kursi-kursi yang tertata rapi itu asing di penglihatanku. Suasana sepi dan semua orang memperhatikanku. Tatapan serius dan dingin mereka membuatku terintimidasi, layaknya seorang penjahat. Aku duduk dengan beberapa lembar kertas di tanganku. Mereka semua menunggu ku menulis di kertas-kertas itu.
Aku menatap buku yang ada di meja dengan bingung. Aku memutar bolpoinku, terdiam sebentar dan tersenyum lebar. Perasaanku campur aduk dan tak karuan rasanya. Aku mulai menulis, kali ini dimulai dengan menggambar sebuah biji pinus. Semakin lama, kertas yang ada di tanganku mulai penuh dengan tulisan acak dan juga gambar-gambar.
Ruangan yang dingin nan sunyi itu kedatangan seseorang. Terlihat seorang guru memasuki kelas dengan memegang sebuah kertas berisi nama-nama siswa. Satu per satu nama kami disebut olehnya. Sembari memanggil satu persatu pemilik nama, Aku dan Oliv menjauh dari keramaian dan memutuskan untuk duduk di sebuah pos.
“Aduh ramenya..” Aku mendengus kesal.
“Tapi perkemahan ini cuma sekali setahun, eman kalo gak dinikmati” Timpal Oliv. Aku mengabaikannya bersender di dinding pos.
Terdengar sayup-sayup namaku di panggil oleh seseorang. Saat namaku dipanggil terlebih dahulu, terpaksa aku harus meninggalkan Oliv di pos sendirian. Ia pun tak masalah karena huruf awal nama kami terpaut lumayan jauh. Namaku dipanggil untuk urutan masuk bus. Aku naik ke bus duluan, tak lama Oliv menyusul. Saat dirasa semua siswa sudah naik, bus mulai berjalan.
Aku membawa satu buku novel untuk kubaca sepanjang perjalanan. Cemilan juga tersedia di pangkuanku, Oliv tidak membawa apa-apa karena ia sedang diet, katanya. Namun, melihat keripik yang kubawa, terkadang ia diam-diam mengambilnya juga dari pangkuanku.
“Katanya diet!” Aku menepuk tangan Oliv yang tak henti menyomot cemilanku.
“Belum sarapan iihh, dari pada pingsan di bus” Oliv menatap ku melas. Aku memberinya cemilan itu,
“Aku masih bawa banyak” Ucapku datar.
“Makasi emma-k” Ucapnya mengejek namaku.
Sepanjang perjalanan banyak murid-murid yang bernyanyi, berbincang dan bercanda. Aku tak suka keramaian jadi memilih untuk tidur saat bacaan novelku terasa membosankan. Perjalanan itu memakan waktu 3 jam, namun tak terasa begitu lama karena banyak waktu yang kugunakan untuk tidur. Bus sampai di sebuah hutan pinus, tempat yang dipilih oleh sekolah untuk mengadakan kegiatan perkemahan.
Tak jauh dari sana ada sebuah gunung yang akan didatangi saat agenda pendakian. Aku turun bersamaan dengan siswa-siswa lain. Udara disini jauh berbeda dari kota, aku mengambil nafas sedalam-dalamnya untuk merasakan udara yang menyejukkan ini. Saat meregangkan tubuh, aku melihat Oliv berbincang dengan temannya yang lain. Aku jelas tidak memiliki teman yang lain. Menurutku merepotkan, mungkin lebih ke tidak mampu bersosialisasi saja. Aku terdiam sejenak. Menyebalkan, aku memang pengecut itulah faktanya.
Panitia mengumpulkan kami berbaris untuk melakukan kegiatan yang sudah terjadwal. Aku meletakkan tasku dan segera membuat barisan. Masih awal namun terasa sangat melelahkan, karena kami disuruh untuk lebih cepat dalam berjalan. Panitia sibuk teriak-teriak membacakan aturan-aturan dan kelompok dalam perkemahan kali ini. Untung saja aku satu kelompok dengan Oliv.
Semua panitia menperkenalkan diri aku tak terlalu mendengarkan. Saat aturan selesai dibacakan para siswa diarahkan bagaimana caranya membuat tenda, Oliv aktif membantu teman-teman yang lain, sedang aku hanya duduk di akar pohon.
“Oliv temanmu itu introvert ya?” Temannya bertanya sembari menancapkan pasak.
“Iya, eman sih kataku, dia selalu mau melakukan hal baru tapi ragu dan takut.”
Tenda sudah jadi aku membantu memindahkan barang-barang milik kelompok, dan tiduran di dalam tenda.
“Capek banget, bawaannya udah berat banyak lagi” Aku mengeluh lagi.
“Emma, kita gak ada waktu buat rebahan, kakak-kakak panitia udah minta kita buat segera baris. Oliv memarahiku karena panitia meminta kita agar segera berkumpul dan berbaris lagi. Seorang panitia datang menghampiri Oliv dan memintanya untuk segera mengumpulkan kelompok dan membuat barisan. Aku mengintip keluar tenda, pemuda itu lagi. Oliv mengangguk dan menoleh ke arahku yang mengintip keluar.
“Ayo!” Oliv menghentakkan kakinya.
“Iyaa, sabar-sabar” Aku berdiri dan mengikuti Oliv menuju barisan.
Panitia meminta kita berkumpul untuk mencatat materi dan membahasa rencana pendakian besok. Itu cukup lama sampai petang tiba. Kami diminta untuk istirahat hingga waktu makan malam tiba. Oliv memutuskan untuk mandi, sementara aku diminta menjaga tenda saat yang lain juga antri mandi. Aku bersender di tumpukkan tas besar, tertidur. Cukup lama hingga antrian mandi menyepi, Oliv membangunkan ku panik.
“Kamu belum mandi?” tanya Oliv.
“Hah..?, Belum” jawabku singkat.
“Tamat kamu emma!, panitia kalo tau kamu belum siap nanti disuruh pimpin doa loh kamu ga takut?!” Mendengar itu aku berkeringat dingin
Aku segera mengambil pakaian ganti dan pergi ke kamar mandi. Saat berlari tergesa-gesa aku melihat pemuda itu dari jauh, sedang keliling mencari siswa yang belum siap. Ia menoleh melihatku. “Hey!, kamu!” ia berjalan mendekat.
Aku terdiam jantungku hampir copot saat terciduk belum siap. Ia sampai dan menatapku entah marah atau bingung. “Namamu Emma kan?” Ia bertanya datar.
“Iya kak” Aku menunduk, sial kenapa aku terlihat seperti anak nakal sekarang?.
“Nanti pimpin doa, cepat siap-siap!” Ia berbicara tegas dan pergi. Aku mau pulang. Itu yang kupikirkan sejak detik itu.
Aku berjalan setelah mengganti pakaian seragam dengan baju bebas menuju ke area makan. Beberapa siswa berdiri mereka semua terlambat bersiap, syukur saja aku tidak sendirian.
“Ayo! jalan lama banget kaya angkot reyot!” Ucap panitia
“Eh iya kak” Aku berlari menuju area makan bergabung dengan barisan anak yang telat.
“Kalian push up 20 kali, sebelum itu pimpin doa, kalian baru boleh makan setelah push up, Ayo segera pimpin!”
Aku dan sekawanan anak yang telat memimpin doa, setelah itu kami disuruh push up di depan anak-anak yang sedang makan. Aku meringis karena malu.
“Tak apa aku juga terlambat tidak usah malu” Ucap Anna siswa pintar di kelompokku.
“Tuh temenmu aja tidak meringis malu, ini semua atas kesalahan kalian sendiri” Ucap panitia.
Aku menatap Anna, entah aku lupa perasaan ku saat itu. Saat ditertawakan panitia dan Anna. Oliv menyiapkan selimut untuk kelompok kami agar bisa tidur dengan nyaman. Setelah kembali dari makan malam. Aku kembali ke kemah dan tergeletak begitu saja.
“Kasian emma-k pasti capek yah” Oliv berbicara dengan nada imut yang dipaksa.
“Sst diem kamu” Aku berbalik tak sudi melihat wajahnya.
Anak kelompok kami yang lain sedang pergi entah mencari apa di tenda hanya ada aku, Oliv dan Anna. Karena terlalu lelah aku tidur lebih dulu daripada yang lain. Lupa kalau ada acara api unggun sebentar lagi. Tak lama panitia mulai mengobrak anak-anak yang masih di dalam tenda. Oliv yang membangunkanku yang tidur seperti orang mati ini menyerah dan pergi lebih dulu.
“Siapa ini yang masih di dalam!” Panitia membuka tenda kelompok kami yang menyisakan Aku yang tidur setengah pingsan.
“Saya izin sakit kak” Aku menggerutu di balik selimut.
Tak ada suara, sepertinya sudah pergi. Aku kembali tidur. Tak terasa pagi datang begitu cepat. Pukul tiga kami di bangunkan untuk bersiap trekking jadi kami diminta membongkar tenda agar bisa menginap saat naik ke atas gunung. Aku terbangun saat Oliv menamparku karena tak kunjung bangun. Sempat cekcok sebentar, aku akhirnya membantu kelompok kami melipat tenda. Saat di beritahu panitia bahwa kami baru akan diberi sarapan di pos 1, aku mengeluh sepanjang perjalanan menuju pos. Oliv yang mendengar aku mengeluh tak henti-henti ia menyumpal mulut ku dengan roti yang ia bawa.
“Berhenti mengeluh, kuping ku mual”
“Rotinya gak enak”
“Roti itu kubeli 15.000 kamu tahu?!” Oliv berdecak.
Aku diam tak lanjut berkata apapun. Sampai akhirnya kita tiba di pos 1 setelah 3 jam perjalanan. Panitia PMR sibuk mengurusi anak-anak yang pucat pasi. Sementara panitia lain mulai membagikan sarapan. Saat menunggu sarapan ku tiba salah satu panitia bergosip disebelahku.
“Gila men serius jam 1 udah manjat duluan? untung aku kaga ikut panitia inti, kalo kagak udah mati menggigil aku”
“Iya lagi, syukur-syukur dah, kasian Silo ama Zal. sehat-sehat kata aku”
Dipikir-pikir memang aku tak melihat pemuda itu sepanjang perjalanan. Ternyata ia mulai terlebih dahulu. Oliv yang melihatku serius mendengarkan pergosipan itu tertawa kecil
“Dengerin apa sih emma-k?” ,
“Dengerin cerita calon masa depan” ,Ia tertawa terbahak-bahak,
“Itu makanan nya di makan katanya laper, nanti nangis kalo gak sempet makan”,
“Dih siapa yang nangis..” .
Aku segera makan dan tak lama kembali memulai perjalanan. Di pos 2 Aku sempat pergi ke toilet sebentar dan bertemu Zal sedang makan jeruk sambil menunggu seseorang.
“Nungguin siapa mas?”
“Silo tadi turun dari pos 3 mau ke toilet, di pos 3 toilet nya serem.”
“Ohh..” Aku menghiraukan dan kembali ke barisan karena toilet penuh, masih bisa kutahan, tak masalah toilet seram bukan berarti tak bisa digunakan.
Perjalanan ke pos 3 tak terlalu lama hanya sekitar 1 jam kalau jalan cepat. Saat sampai di pos 3 kami mendengar salah satu anggota kelompok kami hilang, Anna. Sebagian panitia mencari Anna begitu juga kelompok kami. Silo dan Zal juga mencari Anna. Hari mulai petang, matahari hendak terbenam. Perjalanan kami tertunda 3 jam lagi karena pencarian anggota yang hilang. Aku kelelahan dan meminta Oliv menemaniku sebentar menjauh dari kerumunan. Oliv terlihat tidak minat istirahat, ia khawatir dengan kawannya itu. Aku pergi berpisah dengan Oliv. Kami mencari Anna agak jauh dari kerumunan.
“Dasar keras kepala tak susah mencari gadis hilang di pos 3 hutan sudah gak selebat itu..” Aku menggerutu.
Aku duduk diatas batang kayu besar nyang lapuk.
“Kamu.. yang nyembunyiin Anna kan?” Oliv menatap ku menahan marah.
“Hah? Nyembunyiin gimana?” Aku menatap Oliv bingung.
“Tadi Anna udah ditemuin deket toilet pos 2.. pipi nya bonyok kaki nya lebam.. Jangan pura-pura gatau please.. kan Cuma kamu sama dia yang ke toilet pos 2 tadi”,
“Ada Zal disana, gak cuma aku”,
“Zal di pos 3, semua juga udah tau kali..”
“Tapi dia sendiri bilang turun dari pos 3 nemenin Soli ke kamar mandi..”
“Tapi di pos 3 ada kamar mandi ngapain susah-susah kebawah? udah jujur aja aku gak kasi tau ke siapa-siapa kok!”
Aku menatap Oliv tak percaya.
“Yasudah kalo kamu gak sepercaya itu sama temenmu yang jelek, pemalas dan bodoh ini pergi aja, lapor sana!”
Aku turun dari tumpukkan kayu dan berencana turun ke tempat kemah.
“Emma! mau kemana kamu!”
“Turun!”
Nyatanya bohong, benar aku yang memukul Anna, memang ada Zal maupun Soli, namun saat mereka pergi aku kembali ke toilet. Anna membuatku geram, saat turun dari bus, ia sibuk mengajak Oliv menjauh dariku, berbicara dengannya layaknya sahabat dekat. Selain itu, Anna juga menipuku agar lanjut tidur saat menjaga tenda bilang kalau waktu istirahat sangat panjang, ia menertawakanku saat dihukum karena terlambat bersiap, saat itu aku tau Anna, para panitia bahkan Silo ikut menertawakanku.
Perkemahan dibatalkan, kami turun dari gunung bahkan sebelum sampai di puncak, Anna dibawa kerumah sakit terdekat di kota itu. 3 hari setelah kepulangan kami dari kemah. Pihak keluarga Anna melapor ke kepolisian. Anna tak bisa memberikan kesaksian karena syok hingga Silo dan Zal angkat bicara bahwa ia mendengar suara seseorang merintih kesakitan, namun karena takut mereka mengabaikan dan kembali ke pos 3. Tak ada yang tahu hingga Oliv datang memberi kesaksian, ia bilang bahwa Emma juga pergi ke toilet selain Silo Zal dan Anna. Aku dipanggil ke kepolisian sebagai terlapor. Ruangan ber AC itu semakin dingin saat aku selesai menjelaskan kronologinya. Keluarga memberikan bukti berupa Visum dan Batu. Aku memukul Anna dengan batu kecil. Namun belum diperiksa apakah benar itu adalah batu yang digunakan untuk pencobaan. Nenekku sebagai wali satu-satunya di maki-maki oleh pihak keluarga, ia merekam wajah nenekku menyebarkannya di sosial media, begitu juga aku yang dimaki -maki oleh keluarganya dan warga sosmed serba tahu. Video sempat di takedown sebelum kembali lagi entah kenapa. Akhirnya, aku pindah sekolah, Oliv tak menghubungiku lagi sejak itu.
